Solok, Fokuscyber.com — Kabupaten Solok, Sumatera Barat, bersiap memiliki magnet baru wisata agro. Bukan sekadar hamparan perkebunan, Kebun Durian Taruko di Taruko, Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, disiapkan menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman menikmati durian premium langsung dari kebunnya.
Berada persis sebelum Kantor Camat Payung Sekaki, kawasan perkebunan seluas kurang lebih 16 hektare tersebut mulai menunjukkan daya tariknya. Sebanyak 250 batang pohon durian unggulan tumbuh di kawasan itu, dengan bibit yang didatangkan khusus dari Pulau Jawa.
Yang membuat kebun ini semakin menarik, sebagian tanaman kini mulai memasuki fase pembuahan. Bahkan, sejumlah pohon telah menghasilkan buah yang matang dan siap dipetik.
Bagi pencinta durian, kondisi tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung nantinya tidak hanya datang untuk membeli durian, tetapi juga dapat merasakan sensasi menikmati buah langsung dari kawasan perkebunan.
Kebun Durian Taruko mengusung konsep perkebunan durian premium. Sejumlah varietas yang ditanam merupakan jenis yang selama ini dikenal luas di kalangan pencinta dan kolektor durian. Di antaranya Musang King, varietas yang dikenal dengan daging buah lembut, tekstur creamy, serta cita rasa manis legit.
Ada pula Bawor yang dikenal memiliki daging buah tebal, Duri Hitam atau Black Thorn yang memiliki karakter rasa khas, serta Super Tembaga yang menjadi salah satu varietas yang banyak diburu pencinta durian.
Kehadiran berbagai varietas tersebut menjadi modal penting bagi Kebun Durian Taruko untuk membangun identitas sebagai salah satu sentra wisata durian premium di Kabupaten Solok. Konsep yang ditawarkan pun tidak berhenti pada aktivitas jual beli buah.
Pengunjung nantinya diarahkan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap: datang ke kebun, menikmati suasana alam, memetik atau mencicipi durian, kemudian bersantai di kawasan perkebunan.
Di balik rencana besar tersebut terdapat kisah personal sang pemilik, Jamaludin, seorang perantau asal Nagari Supayang yang selama ini membangun sejumlah lini usaha di Kota Solo, Jawa Tengah. Ide membangun perkebunan durian di kampung halaman ternyata berawal dari pengalaman sederhana.
Sebagai pencinta durian, Jamaludin mengaku kerap kesulitan mendapatkan buah favoritnya ketika berada di Solo. Tingginya permintaan membuat stok durian sering habis ketika dirinya ingin membeli. Pengalaman tersebut justru melahirkan sebuah gagasan. Daripada terus mencari durian berkualitas dari tempat lain, Jamaludin memilih membangun sumbernya sendiri.
Ia kemudian membawa gagasan itu pulang ke kampung halaman dan mengembangkan perkebunan durian premium di kawasan Taruko.
Pilihan tersebut bukan semata-mata investasi bisnis. Ada keinginan untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi para pencinta durian sekaligus membuka peluang ekonomi baru di daerah asalnya.
Kebun Durian Taruko ke depan tidak hanya diproyeksikan sebagai perkebunan produksi. Kawasan tersebut disiapkan berkembang menjadi destinasi wisata agro di Kabupaten Solok.
Manajemen kebun juga menyiapkan fasilitas tempat istirahat hingga area penginapan bagi pengunjung, khususnya konsumen dari luar daerah.
Konsepnya dibuat menyatu dengan lingkungan perkebunan. Pengunjung dapat menghabiskan waktu lebih lama di kawasan kebun sambil menikmati udara dan suasana alam yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Jika konsep tersebut terealisasi secara optimal, Kebun Durian Taruko berpotensi menggabungkan tiga kekuatan sekaligus: perkebunan, kuliner, dan pariwisata.
Pengunjung bukan hanya membeli durian, tetapi mendapatkan pengalaman wisata yang sulit diperoleh di tempat lain. Kehadiran Kebun Durian Taruko juga membawa peluang lebih besar bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Wisata agro dengan daya tarik durian premium berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi turunan. Mulai dari kuliner, penginapan, transportasi, perdagangan hasil pertanian, hingga produk UMKM lokal.
Apalagi Kabupaten Solok selama ini dikenal memiliki bentang alam yang kuat sebagai daerah agraris. Pengembangan wisata berbasis perkebunan dapat menjadi salah satu cara untuk mengubah potensi pertanian menjadi pengalaman wisata bernilai ekonomi lebih tinggi.
Dengan lahan sekitar 16 hektare, ratusan pohon durian unggulan, serta rencana fasilitas wisata dan penginapan, Kebun Durian Taruko memiliki modal awal untuk berkembang menjadi salah satu destinasi wisata agro yang diperhitungkan di Sumatera Barat. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan kebun tersebut tidak hanya menarik ketika musim durian tiba.
Pengembangan fasilitas wisata, pengelolaan kawasan, promosi, aksesibilitas, hingga kesinambungan produksi akan menjadi faktor penting agar Kebun Durian Taruko mampu menjadi destinasi yang dikunjungi wisatawan secara berkelanjutan. Jika seluruh konsep tersebut berjalan sesuai rencana, Taruko tidak lagi hanya dikenal sebagai kawasan perkebunan.
Dari hamparan kebun durian itu, sebuah destinasi baru sedang dipersiapkan tempat di mana Musang King, Black Thorn, Bawor, dan Super Tembaga bukan hanya menjadi buah yang diperdagangkan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenalkan potensi wisata agro Kabupaten Solok kepada wisatawan dari berbagai daerah. (A3)
