Oleh : Ari Rafika WD, S.Pd.I
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”
Pepatah ini bukan sekadar hiasan di gapura. Ia adalah nafas orang Minangkabau. Ia yang membuat kita berbeda. Ia yang menjaga rumah gadang tetap kokoh meski badai datang silih berganti.
Hari ini badai itu datang lagi. Namanya bukan penjajahan, bukan bencana. Ancaman Non Militer berupa perubahan nilai atau perilaku menyimpang. Salah satunya adalah penyebaran gaya hidup LGBT yang masif lewat media sosial, kampus, dan komunitas terselubung.
Karena itu saya menulis dengan gelisah: *Sumbar, jangan biarkan ini menyebar.* Bukan karena benci. Tapi karena sayang. Sayang pada anak cucu kita, sayang pada identitas kita, sayang pada amanah yang dititipkan nenek moyang.
1. Mengapa Sumbar Harus Paling Waspada?
Sumbar bukan Jakarta. Kita punya sistem yang tidak dimiliki daerah lain: sistem kekerabatan matrilineal yang dijaga oleh Bundo Kanduang, peran alim ulama, dan nagari.
Dalam adat Minang, perempuan dijaga marwahnya, laki-laki dijaga tanggung jawabnya. Pernikahan bukan soal “cinta-cintaan”, tapi soal menyambung kaum, menjaga harta pusaka, dan melahirkan generasi penerus.
Jika fondasi relasi laki-laki dan perempuan dirusak, maka yang runtuh bukan hanya individu. Yang runtuh adalah sistem kamanakan, sistem kaum, sistem nagari. Rumah gadang bisa kosong karena tidak ada lagi anak yang meneruskan.
Ini bukan menakut-nakuti. Ini logika adat. Karena itu Sumbar punya alasan paling kuat untuk menjaga batas.
2. Bagaimana Penyebarannya Masuk ke Sumbar?
Kita harus jujur. Penyebaran hari ini tidak datang dengan spanduk. Ia datang pelan-pelan:
Pertama, lewat gawai.
Anak SD di Pekanbaru, di Bukittinggi, di Solok hari ini pegang HP. Algoritma TikTok dan Instagram tidak peduli dia anak siapa. 1 klik, maka FYP akan dipenuhi konten yang menormalkan. Tanpa ada orang tua yang menjelaskan, anak akan mengira “ini normal”.
Kedua, lewat pergaulan kampus.
Mahasiswa rantau pulang bawa ide baru. Ada komunitas diskusi, ada kegiatan yang dibungkus “HAM” dan “kesehatan”. Tanpa forum dialog di kampus, ide itu menyebar diam-diam.
Ketiga, lewat keluarga yang retak.
Banyak anak yang mencari validasi karena di rumah tidak ada dialog. Ayah merantau, ibu sibuk, komunikasi putus. Saat ada komunitas yang bilang “kami menerima kamu”, anak merasa menemukan rumah.
Penyebaran tidak terjadi dalam sehari. Ia terjadi ketika 3 hal ini bertemu: ketidaktahuan + kekosongan keluarga + arus media yang deras.
3. Apa Bahayanya Jika Kita Diam?
Saya tahu, sebagian orang bilang “biarkan saja, itu urusan pribadi”. Tapi di Sumbar, tidak ada yang benar-benar “urusan pribadi”.
Jika kita diam, maka 10 tahun lagi kita akan hadapi:
1. Krisis generasi penerus*: Angka pernikahan turun, angka perceraian naik. Siapa yang akan menjaga rumah pusaka?
2. Masalah kesehatan dan sosial*: Data Kemenkes menunjukkan perilaku seks berisiko berkorelasi dengan penyakit menular. Ini beban negara.
3. Hilangnya jati diri*: Anak-anak kita tidak lagi bangga jadi orang Minang, karena merasa “adat ini mengekang”. Padahal adat inilah yang melindungi kita.
Bung Hatta pernah bilang: “Minangkabau akan besar jika adat dan agamanya jalan bersama.” Jika salah satunya pincang, maka kita akan kehilangan arah.
4. Melawan Bukan Berarti Membenci
Ini penting saya garis bawahi. Menolak penyebaran ≠ membenci orangnya.
Dalam Islam, kita diperintahkan benci pada perbuatan, bukan pada manusia. Dalam adat, kita diperintahkan “menegur dengan elok”.
Musuh kita bukan orangnya. Musuh kita adalah: ketidaktahuan, keluarga yang tidak komunikatif, dan sistem media yang merusak.
Karena itu cara Sumbar melawan harus cara Sumbar: dengan musyawarah, dengan pendidikan, dengan kasih sayang.
5. Langkah Konkret Agar LGBT Tidak Menyebar di Sumbar*
Agar opini ini tidak jadi omongan kosong, ini yang bisa kita lakukan bersama:
1. Kuatkan Pendidikan di Rumah dan Surau
Kembalikan fungsi surau sebagai tempat pendidikan akhlak. Ayah wajib hadir, bukan hanya kirim uang. Ibu wajib jadi Bundo yang mendidik. Ajarkan anak tentang tubuh, batasan, dan tanggung jawab sejak SMP. Malu bertanya lebih berbahaya dari salah mendidik.
2. Peran Aktif Nagari dan Bundo Kanduang
Wali Nagari bersama KAN dan Bundo Kanduang harus buat program “Nagari Ramah Keluarga”. Ada penyuluhan tiap bulan. Ada posko konsultasi keluarga. Jangan tunggu ada kasus baru bergerak.
3. Literasi Digital untuk Orang Tua
Pemprov dan Pemkab harus adakan pelatihan “Orang Tua Cerdas Digital”. Ajarkan cara pasang parental control, cara ngobrol dengan anak tentang konten. Musuh kita algoritma, jadi kita harus lebih cerdas.
4. Kampus Jadi Benteng, Bukan Celah
Rektor dan Dosen di Unand, UIN, Bung Hatta harus berani buat mata kuliah wajib tentang keluarga, kesehatan reproduksi berbasis nilai, dan etika. Sediakan konselor kampus yang paham nilai agama dan budaya.
5. Perda Perlindungan Keluarga
DPRD Sumbar perlu dorong Perda yang isinya: pencegahan, edukasi, dan layanan pemulihan. Bukan Perda yang menghukum, tapi Perda yang melindungi anak-anak kita dari paparan dan melindungi keluarga dari keretakan.
6. Kita Tidak Sedang Melawan Zaman
Ada yang bilang “itu sudah zaman now, Pak”. Saya jawab: Zaman boleh berubah, tapi fitrah tidak berubah.
Dulu nenek moyang kita juga diuji. Ada penjajahan, ada komunis, ada narkoba. Mereka tidak menyerah. Mereka rapat di surau, mereka kuatkan adat, mereka didik anak.
Hari ini giliran kita diuji. Ujiannya lewat HP.
Kalau dulu kita jaga kampung dari maling, sekarang kita jaga HP anak dari konten. Sama-sama menjaga.
Penutup: Ini Warisan, Bukan Beban
Saya menulis ini sebagai anak Minang. Saya tidak mau 20 tahun lagi cucu saya bertanya: “Nek, dulu kenapa orang Minang diam saja waktu nilai kita digerus?”
Jawabannya harus: “Dulu kita berjuang, Nak. Kita rapatkan barisan. Kita kuatkan rumah. Kita jaga adat basandi syarak.”
Sumbar tidak butuh kebencian. Sumbar butuh keberanian. Berani mendidik, berani hadir, berani menjaga.
Mari kita mulai dari rumah kita masing-masing. Matikan TV yang tidak mendidik. Ajak anak sholat berjamaah. Tanya kabar anak setiap malam. Datang ke pertemuan nagari.
Karena jika bukan kita yang jaga Sumbar, siapa lagi? Jika bukan sekarang kita bergerak, kapan lagi? “Alam takambang jadi guru”. Mari kita jadikan ujian ini guru, agar kita semakin kokoh dimasa mendatang.
