35.4 C
Munich
Kamis, Juli 30, 2026

UGM Teliti Kombinasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam untuk Terapi Pendamping Gangguan Saraf Mata

Must read

YOGYAKARTA, Fokuscyber.com – Tim peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan daun pegagan (Centella asiatica) dan kencur hitam (Kaempferia galanga) sebagai terapi pendamping bagi penderita neuritis optik atau peradangan saraf mata.

Penelitian ini berangkat dari potensi besar tanaman herbal lokal yang dipadukan dengan pendekatan ilmiah untuk mendukung pengobatan gangguan penglihatan akibat radang saraf mata.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM, Indra Tri Mahayana, mengatakan kombinasi kencur hitam dan daun pegagan menunjukkan potensi sebagai terapi pendamping bagi penderita neuritis optik berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

“Kencur hitam merupakan salah satu tanaman herbal khas Yogyakarta yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi,” ujar Indra dalam Focus Group Discussion (FGD) penelitian tematis bertajuk Wedang Sahaja: Formulasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam sebagai Suplemen Pasien Saraf Mata melalui Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Difabel di Kota Yogyakarta, yang digelar di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Yogyakarta, Rabu Kemaren.

Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Taufiq Hidayat dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM menjelaskan bahwa terapi utama neuritis optik akut hingga kini masih mengandalkan pemberian kortikosteroid dosis tinggi.

Meski demikian, penelitian terus dikembangkan untuk menemukan terapi pendamping yang mampu memberikan efek neuroprotektif atau perlindungan terhadap saraf.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dengan vitamin B12 dalam membantu mempertahankan fungsi penglihatan pada pasien neuritis optik akut,” katanya.

Sementara itu, Founder, Konseptor, dan Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sekaligus Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rika Fatimah, menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi produk-produk lokal yang dihasilkan pelaku UMKM.

Menurutnya, produk lokal memiliki karakteristik dan kapasitas produksi yang berbeda dengan industri berskala besar sehingga membutuhkan ekosistem pasar yang mampu mendukung pertumbuhan dan keberlanjutannya.

Rika menilai pengembangan produk herbal berbasis daun pegagan dan kencur hitam tidak hanya menjadi inovasi kesehatan yang didukung bukti ilmiah, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pelaku UMKM, komunitas difabel, akademisi, pemerintah, hingga konsumen. Selain itu, upaya ini juga dapat memperkuat posisi produk herbal lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan industri kesehatan berbasis potensi daerah.

“Keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet, tetapi juga oleh kemampuan membangun keunikan produk, menjaga kesejahteraan para pelaku usaha, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Rika. Nando

- Advertisement -spot_img

More articles

- Advertisement -spot_img

Latest article