19.4 C
Munich
Sabtu, September 12, 2026

Kabut Asap Kepung Sumbar, Warga Resah

Must read

Solok, Fokuscyber.com — Kabut asap mulai melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat. Kondisi tersebut mulai menimbulkan keresahan masyarakat, terutama karena asap berpotensi mengganggu kesehatan, jarak pandang, serta aktivitas warga di luar ruangan, Jumat (4/9/2026).

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul masuknya asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi tetangga. Gubernur Sumbar Mahyeldi meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara sedang dipengaruhi kabut asap.

“Kita berharap koordinasi dan sinergi antar seluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang.

Mahyeldi juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dianjurkan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kabut asap mulai terasa pekat.

Kekhawatiran terhadap dampak kesehatan semakin meningkat.

Pemerintah Provinsi Sumbar melaporkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Padang dalam beberapa hari terakhir mencapai sekitar 600 kasus.

Anak-anak, lanjut usia serta masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Kondisi udara yang memburuk dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila kabut asap terus bertahan.

Sementara itu, hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Sumbar periode 1–3 September 2026 mencatat sebanyak 19 titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Barat. Titik panas tersebut tersebar di Kabupaten Dharmasraya, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan dan Sijunjung.

Selain titik panas di Sumbar, asap juga berpotensi berasal dari karhutla di sejumlah provinsi tetangga. Data SIPONGI mencatat ribuan hotspot di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Bengkulu dan Sumatera Utara.

Salah seorang masyarakat yang meminta namanya tidak disebutkan menyampaikan, kondisi kabut asap mulai membuat warga resah. Menurutnya, masyarakat membutuhkan tindakan nyata dari pemerintah, bukan sekadar imbauan ketika kondisi sudah semakin mengkhawatirkan.

“Kalau asap sudah mulai terasa, tentu kami khawatir. Jangan sampai masyarakat hanya diminta memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar, sementara sumber asap tidak segera ditangani,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah bersama aparat dan seluruh instansi terkait memperkuat pengawasan terhadap potensi karhutla.

Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sejak dini agar persoalan kabut asap tidak berkembang dan semakin mengganggu masyarakat.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan. Setiap sumber api harus diwaspadai karena dapat menjadi pemicu kebakaran yang lebih besar, terlebih dalam kondisi cuaca yang kering.

Masyarakat berharap koordinasi dan sinergi yang disampaikan pemerintah benar-benar diwujudkan dalam tindakan di lapangan. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah kualitas udara memburuk dan jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan semakin bertambah. (05)

- Advertisement -spot_img

More articles

- Advertisement -spot_img

Latest article