16 C
Munich
Selasa, Oktober 27, 2026

Tingkatkan Respons Kegawatdaruratan, RSUP M. Djamil Gelar Workshop EWS dan Code Blue

Must read

Padang, Fokuscyber— Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil Padang terus berkomitmen meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Langkah strategis ini diwujudkan melalui Workshop Early Warning System (EWS) dan Aktivasi Code Blue yang digelar di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (26/10).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari hingga 27 Oktober 2026 ini dirancang untuk mempertajam kompetensi tenaga kesehatan dalam mendeteksi dini perburukan klinis serta mempercepat respons kegawatdaruratan secara terkoordinasi dan sesuai prosedur.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, dalam arahannya menegaskan bahwa keselamatan pasien merupakan prioritas mutlak yang harus dipegang teguh oleh seluruh tenaga kesehatan dalam setiap pengambilan keputusan klinis.

“Kondisi pasien dapat berubah dengan cepat. Pasien yang awalnya tampak stabil bisa mengalami perburukan klinis yang mengancam jiwa apabila tanda-tanda awalnya tidak dikenali dan ditindaklanjuti secara tepat,” ujar dr. Maliana.

Sinergi EWS dan Code Blue untuk Keselamatan Optimal

Dalam pemaparannya, dr. Maliana menjelaskan bahwa Early Warning System (EWS) memiliki peran krusial bukan sekadar sebagai instrumen pencatatan skor atau pelengkap dokumentasi rekam medis. Lebih dari itu, EWS adalah instrumen penggerak sistem pelayanan klinis untuk mengidentifikasi tingkat kegawatan, melakukan eskalasi pelayanan, dan memastikan intervensi medis yang tepat waktu.

Ia mengingatkan agar seluruh tenaga kesehatan konsisten menerapkan EWS sesuai kewenangan masing-masing, memahami parameter klinis yang dinilai, serta tidak mengabaikan tanda-tanda awal perburukan pasien.

Sebagai pelengkap deteksi dini, kesiapan respons kegawatdaruratan turut diperkuat melalui optimalisasi Code Blue. Mekanisme ini tidak hanya berfungsi sebagai alarm pemanggilan tim resusitasi saat terjadi henti jantung atau henti napas, tetapi juga menuntut kesiapan sumber daya manusia, kejelasan alur aktivasi, pembagian peran yang tegas, serta ketersediaan sarana prasarana yang memadai.

“EWS dan Code Blue adalah dua komponen yang saling berkaitan erat. EWS membantu mengenali perburukan sedini mungkin, sementara sistem respons kegawatdaruratan memastikan penanganan yang cepat dan tepat,” tambahnya.

Dihadirkan Narasumber Kompeten dari LAM-KPRS

Untuk memastikan efektivitas pelatihan, workshop ini menghadirkan jajaran narasumber ahli dari Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM-KPRS) serta para pakar klinis internal rumah sakit, di antaranya:

dr. Andi Wahyuningsih Attas, Sp.An.T.I, Subsp.T.I.(K), MARS (Direktur Utama LAM-KPRS)

Dr. Novrita Ilmiyanti, MARS., FISQua

Suhatman A. Hakim, Ns., S.Kep., M.Kep., Ns., FISQua

Dr. dr. Cindy E. Boom, SpAn-TI., Subsp. KV(K)., Subsp. AP(K)., FISQua

dr. Nadra, SpAn-TI

Ns. Wawan Wahyudi, M.Kep.

Melalui kegiatan ini, pihak manajemen berharap seluruh regulasi dan prosedur yang ada tidak hanya berhenti di atas kertas semata, melainkan diuji melalui simulasi berkala dan tercermin secara nyata dalam standar pelayanan sehari-hari.

“Mari manfaatkan ruang pembelajaran ini untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi lintas profesi, serta mengevaluasi berbagai tantangan di lapangan demi perlindungan optimal bagi setiap pasien,” pungkas dr. Maliana di hadapan para peserta.(SRP)

- Advertisement -spot_img

More articles

- Advertisement -spot_img

Latest article