Solok, Fokuscyber.com – Suasana politik di Nagari Aie Dingin mulai menghangat menjelang Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) periode 2026–2034. Di tengah munculnya sejumlah nama yang diperkirakan akan meramaikan kontestasi, sosok muda Syafni Nola Putri, S.Si., M.I.Kom mulai menjadi perhatian publik.
Kamis (11/6/2026), Nola resmi mengambil formulir pendaftaran bakal calon Wali Nagari di Sekretariat Panitia Pemilihan Wali Nagari (P2WN) Nagari Aie Dingin. Langkah tersebut menjadi sinyal awal keseriusannya untuk ikut bertarung dalam pesta demokrasi tingkat nagari yang akan menentukan arah pembangunan Aie Dingin selama delapan tahun ke depan.
Kedatangannya disambut langsung Ketua P2WN, Yeni Sovia Yunus, S.Pd bersama jajaran panitia. Namun lebih dari sekadar proses administrasi, pengambilan formulir itu dinilai sebagai awal munculnya semangat regenerasi kepemimpinan di tingkat nagari.
Di tengah tuntutan perubahan zaman, masyarakat mulai melihat perlunya figur yang tidak hanya memahami tata kelola pemerintahan, tetapi juga mampu menjawab tantangan era digital, pengembangan ekonomi masyarakat, hingga pemberdayaan generasi muda.
Berangkat dari Aspirasi Masyarakat
Bagi Nola, keputusan untuk maju bukanlah langkah spontan.
Ia mengaku telah melalui proses komunikasi panjang dengan berbagai unsur masyarakat, mulai dari ninik mamak, bundo kanduang, cadiak pandai, tokoh pemuda hingga kelompok masyarakat lainnya.
Menurutnya, dorongan tersebut lahir dari keinginan bersama agar Nagari Aie Dingin mampu bergerak lebih maju tanpa meninggalkan akar adat dan budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat.
“Saya melihat adanya harapan besar dari masyarakat agar nagari terus berkembang dengan tetap menjaga nilai-nilai adat dan budaya, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Nola menilai tantangan pembangunan nagari saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Jika sebelumnya fokus pembangunan lebih banyak pada infrastruktur fisik, kini pemerintah nagari dituntut mampu menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, dan berbasis teknologi.
Selain itu, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan UMKM, peningkatan kualitas pendidikan serta pemberdayaan pemuda menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Modal Pengalaman dari Pemerintahan Hingga Dunia Inovasi
Nama Syafni Nola Putri bukan sosok asing bagi masyarakat Aie Dingin.
Ia pernah mengabdikan diri sebagai staf Wali Nagari Aie Dingin pada periode 2019–2022. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman langsung mengenai dinamika pemerintahan nagari, pelayanan publik, hingga persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Tak hanya itu, kiprahnya dalam berbagai organisasi kemahasiswaan saat menempuh pendidikan di Universitas Negeri Padang turut membentuk kemampuan kepemimpinan dan komunikasi yang dimilikinya saat ini.
Saat ini Nola juga aktif sebagai Direktur Idea Corner, komunitas dan startup yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia, literasi digital, pelatihan, serta inovasi berbasis teknologi.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting di tengah tuntutan transformasi digital yang mulai menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk pemerintahan nagari.
Pilwana Bukan Sekadar Memilih Pemimpin
Bagi masyarakat Aie Dingin, Pilwana tahun ini memiliki makna lebih besar daripada sekadar memilih seorang Wali Nagari.
Kontestasi ini akan menentukan arah pembangunan nagari hingga tahun 2034.
Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, nagari dituntut mampu meningkatkan daya saing masyarakat melalui penguatan sektor pertanian, pengembangan potensi wisata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Karena itu, munculnya figur-figur muda dalam bursa Pilwana dipandang sebagai bagian dari proses regenerasi yang sehat.
Bukan untuk meninggalkan nilai-nilai lama, melainkan memadukan kearifan lokal dengan gagasan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Dalam konteks Minangkabau, kepemimpinan modern tetap harus berpijak pada filosofi:
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”
Sebuah prinsip yang menegaskan bahwa kemajuan dan perubahan harus berjalan seiring dengan nilai moral, adat, dan budaya masyarakat.
Demokrasi Nagari Harus Menjadi Ruang Adu Gagasan
Ketua P2WN Nagari Aie Dingin, Yeni Sovia Yunus, menegaskan bahwa seluruh putra-putri terbaik nagari memiliki kesempatan yang sama untuk ikut berkompetisi.
Panitia, katanya, berkomitmen menjalankan seluruh tahapan Pilwana secara profesional, transparan, dan sesuai regulasi yang berlaku.
Lebih jauh, ia berharap seluruh proses demokrasi dapat berlangsung aman, damai, dan tetap menjaga semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau.
Pilwana, menurut banyak kalangan, seharusnya menjadi ruang adu gagasan, bukan arena perpecahan.
Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang masa depan Aie Dingin:
Bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani yang menjadi tulang punggung ekonomi nagari?
Bagaimana membuka lapangan usaha baru bagi generasi muda?
Bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar produk lokal?
Bagaimana meningkatkan pelayanan publik agar lebih cepat dan transparan?
Serta bagaimana menjaga adat dan budaya di tengah derasnya arus modernisasi?
Aie Dingin Menanti Pemimpin Masa Depan
Masuknya nama Syafni Nola Putri ke dalam bursa Pilwana 2026–2034 menambah dinamika dan warna dalam proses demokrasi lokal di Nagari Aie Dingin.
Terlepas dari siapa yang nantinya memperoleh kepercayaan masyarakat, Pilwana ini diharapkan mampu melahirkan pemimpin yang memiliki visi pembangunan, integritas, serta keberanian menghadapi tantangan zaman.
Sebab jabatan Wali Nagari bukan sekadar posisi administratif.
Ia adalah amanah untuk menjaga adat, memperkuat ekonomi rakyat, meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat, dan mempersiapkan generasi masa depan.
Di tengah perubahan dunia yang terus bergerak cepat, Aie Dingin membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga akar tradisi sekaligus membuka ruang bagi inovasi.
Karena pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukan ditentukan oleh siapa yang paling kuat dalam persaingan, melainkan oleh siapa yang paling siap mengabdi dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pilwana Aie Dingin 2026–2034 pun kini bukan hanya soal memilih seorang Wali Nagari, tetapi tentang menentukan arah masa depan nagari untuk delapan tahun mendatang. (A3)


