Solok, Fokuscyber.com – Kontestasi pemilihan Wali Nagari Sulit Air periode 2026–2034 tidak hanya menjadi persaingan memperebutkan jabatan pemerintahan terendah di Sumatera Barat. Lebih dari itu, pemilihan ini menjadi panggung lahirnya gagasan baru tentang bagaimana sebuah nagari dibangun dari semangat kebersamaan, transparansi, dan keberanian mengambil perubahan.
Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Yonuardi, S.Pd.I Dt. Mangkuto Kayo, calon Wali Nagari nomor urut 1. Dengan mengusung slogan “Bersatu Membangun Nagari”, ia mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni pembangunan yang dimulai dari masyarakat, bukan semata-mata dari pemerintah.
Di tengah berbagai persoalan nagari, mulai dari pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, pengelolaan potensi generasi muda hingga pelayanan publik yang masih membutuhkan peningkatan, Yonuardi hadir membawa narasi tentang kolaborasi.
Baginya, kemajuan nagari tidak mungkin diwujudkan hanya oleh seorang wali nagari.
“Nagari akan maju apabila seluruh elemen masyarakat bersatu. Pemerintah hanyalah penggerak, sedangkan kekuatan sesungguhnya ada pada masyarakat,” menjadi prinsip yang terus ia gaungkan dalam setiap pertemuan dengan warga.
Pemuda yang Memilih Pulang untuk Membangun
Di saat banyak generasi muda memilih mencari peluang di kota besar, Yonuardi justru mengambil jalan berbeda. Ia memilih kembali mengabdikan diri kepada kampung halaman.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, Sulit Air memiliki modal sosial yang kuat, jaringan perantau yang besar, serta sumber daya alam yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara profesional.
Ia meyakini pembangunan nagari ke depan tidak lagi cukup mengandalkan dana desa atau bantuan pemerintah, melainkan harus mampu mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi masyarakat.
Konsep yang diusungnya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ia ingin menghadirkan pemerintahan nagari yang terbuka, akuntabel, dan mudah diakses masyarakat.
Empat Pilar yang Ditawarkan
Dalam materi sosialisasinya, terdapat empat komitmen utama yang menjadi arah kepemimpinannya apabila dipercaya masyarakat bersatu dalam kebersamaan, membangun dengan hati, mengelola potensi menuju kemandirian ekonomi nagari dan mewujudkan pemerintahan yang transparan dan amanah.
Empat poin tersebut menjadi fondasi visi yang menurutnya harus diwujudkan secara nyata, bukan sekadar menjadi slogan kampanye.
Tantangan Sesungguhnya Dimulai Setelah Pemilihan
Bagi masyarakat Sulit Air, siapa pun yang terpilih nantinya akan menghadapi pekerjaan besar.
Nagari membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul seluruh kelompok masyarakat setelah kontestasi berakhir, membangun komunikasi dengan para perantau, meningkatkan pelayanan publik, memperkuat ekonomi masyarakat, serta memastikan penggunaan anggaran nagari berjalan secara transparan.
Karena itu, pemilihan wali nagari bukan sekadar memilih figur, tetapi menentukan arah pembangunan Sulit Air selama delapan tahun ke depan.
Politik Gagasan, Bukan Sekadar Popularitas
Di tengah dinamika politik lokal yang sering diwarnai persaingan personal, kemunculan figur muda dengan semangat perubahan menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati.
Yonuardi mencoba membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan mengedepankan gagasan ketimbang retorika.
Apakah visi tersebut mampu diterjemahkan menjadi program nyata dan mendapat kepercayaan mayoritas warga, sepenuhnya akan ditentukan melalui proses demokrasi di Nagari Sulit Air.
Yang pasti, kontestasi kali ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang tidak hanya menawarkan janji, tetapi juga memiliki komitmen menghadirkan tata kelola pemerintahan nagari yang lebih profesional, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Pada akhirnya, masa depan Nagari Sulit Air tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang dalam pemilihan, tetapi oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat untuk tetap bersatu setelah pesta demokrasi usai. Sebab, pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat lahir dari persatuan, partisipasi, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya. (A3)


