12.2 C
Munich
Kamis, September 17, 2026

Dari Sitti Nurbaya ke Purbaya: Dapek Nan di Hati, Ndak Dapek Sakandak Hati

Must read

Oleh : Herdiyulis

Ada kenangan masa kecil yang tiba-tiba kembali hanya karena sebuah berita.

Dulu, ketika masih kecil, saya menyaksikan kisah Sitti Nurbaya di TVRI. Saat itu, saya hanya memahami cerita tentang cinta yang tidak sampai. Puluhan tahun kemudian, sebuah berita tentang Purbaya membawa ingatan itu kembali.

Tentu, Sitti Nurbaya dan Purbaya adalah dua cerita yang berbeda. Berbeda zaman, persoalan, dan konteks. Namun keduanya mengajak kita melihat satu hal yang sama: manusia ketika berhadapan dengan keputusan besar yang berada di luar dirinya.

Sitti Nurbaya menghadapi keadaan yang membuat pilihan hidupnya menyempit. Ia harus menerima kenyataan yang begitu berat dan tidak sesuai dengan kehendak hatinya.

Purbaya menghadapi cerita yang berbeda. Setelah meninggalkan jabatan Menteri Keuangan, ia terlihat tersenyum dan bergurau akan pulang memancing di belakang rumah sambil merenung, “Kenapa dipecat?”

Kita tidak tahu apa yang ada di balik senyum itu. Dan kita memang tidak perlu menebaknya. Sebab setiap orang memiliki cara sendiri menghadapi sebuah kenyataan.

Di sinilah sebuah ungkapan Minang terasa begitu dekat  “Dapek nan di hati, ndak dapek sakandak hati.”

Kita boleh memiliki rencana, keinginan dan harapan. Tetapi tidak semuanya berjalan sebagaimana yang kita kehendaki. Ada hal yang dapat diperjuangkan, dan ada keputusan yang akhirnya harus diterima.

Sitti Nurbaya bersedih menghadapi jalan hidup yang tidak dipilihnya. Purbaya memilih tersenyum dan bercanda ketika menghadapi perubahan dalam perjalanan jabatannya. Dua ekspresi yang berbeda, tetapi sama-sama manusiawi.

Barangkali, kita pun pernah berada di posisi yang sama. Kehilangan sesuatu yang kita inginkan, menghadapi keputusan yang tidak kita buat, atau menerima keadaan yang tidak pernah kita rencanakan.

Pada akhirnya, bukan selalu keadaan yang dapat kita pilih. Tetapi sikap kita dalam menghadapinya masih menjadi ruang yang kita miliki.

Dan mungkin, itulah pelajaran sederhana dari dua cerita yang datang dari dua zaman berbeda: hidup tidak selalu memberikan apa yang kita kehendaki, tetapi selalu memberi kita kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

- Advertisement -spot_img

Latest article