Padang, Fokuscyber – Jalur kereta api di Sumatera Barat tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga merupakan warisan sejarah yang telah berperan penting dalam pembangunan daerah sejak akhir abad ke-19. Kini, di tengah upaya pemerintah memperkuat konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra, jaringan rel di Ranah Minang dinilai memiliki potensi strategis untuk terus dikembangkan.
Sejarah mencatat, jalur kereta api di Sumatera Barat awalnya dibangun untuk mengangkut batu bara dari Ombilin menuju Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur. Keberadaan rel tersebut kemudian membuka konektivitas antardaerah, menghubungkan kawasan pesisir hingga pedalaman seperti Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sawahlunto. Jalur ini turut mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi, budaya, dan sosial di berbagai wilayah.
Saat ini, rel kereta api tetap menjadi moda transportasi andalan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari, mulai dari perjalanan menuju sekolah, tempat kerja, bandara, pusat ekonomi, hingga destinasi wisata.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumbar menjadi modal penting dalam mendukung penguatan konektivitas transportasi berbasis rel di Pulau Sumatra.
“Perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Kereta api mendukung mobilitas harian, sektor pariwisata, distribusi logistik, hingga akses menuju bandara. Hal ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus dikembangkan,” ujar Reza.
Perkeretaapian di Sumatera Barat mulai berkembang pada akhir abad ke-19. Stasiun Padang dibangun pada 1889 sebagai pusat distribusi menuju Pelabuhan Emmahaven, kemudian disusul pembangunan Stasiun Pulau Air pada 1891 yang diresmikan pada 1 Oktober 1892. Jaringan rel selanjutnya berkembang hingga Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Pariaman, dan Naras.
Kini, KAI Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp), yang terdiri atas 110,910 kmsp jalur aktif dan 201,322 kmsp jalur nonaktif. Operasional tersebut didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang.
Untuk layanan penumpang, KAI mengoperasikan KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai. Sementara angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.
Kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api juga terus meningkat. Sepanjang Semester I 2026, KAI Divre II Sumatera Barat melayani sebanyak 1.140.586 pelanggan. Di sektor logistik, angkutan barang mencapai 556.465 ton, terdiri atas 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan mengalami pertumbuhan signifikan, dari sekitar 1,09 juta pelanggan pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025 atau meningkat sekitar 81 persen. KA Pariaman Ekspres masih menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbanyak, sementara KA Lembah Anai menunjukkan peningkatan setelah penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.
Potensi pengembangan perkeretaapian Sumatera Barat juga didukung pertumbuhan sektor pariwisata. Berbagai destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi berpeluang semakin terhubung melalui transportasi berbasis rel.
Selain itu, sejumlah jalur nonaktif seperti Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi, hingga Solok–Muaro Kalaban dinilai memiliki peluang untuk direaktivasi sebagai bagian dari pengembangan jaringan kereta api di masa depan.
Reza menambahkan, peningkatan jumlah pelanggan dan angkutan barang menjadi indikator tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api.
“Apabila pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. KAI Divre II Sumatera Barat siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tutupnya.
Dengan sejarah panjang, tingginya kepercayaan masyarakat, serta besarnya potensi pengembangan jaringan, Sumatera Barat dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung terwujudnya konektivitas perkeretaapian Pulau Sumatra yang semakin terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.
Rita


