Solok, Focuscyber.com — Krisis air bersih yang kerap terjadi saat hujan kembali menjadi sorotan. Kali ini, Pemerintah Kabupaten Solok bersama PDAM bergerak cepat membenahi intake Saniangbaka yang selama ini menjadi titik krusial terganggunya produksi air.
Direktur Utama PDAM Kabupaten Solok, Febri Fauza, memastikan perbaikan terus berjalan demi menjaga pelayanan kepada masyarakat.
Saat dihubungi oleh awak media, Febri Fauza menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar kerusakan teknis, melainkan kondisi air baku yang berubah drastis saat hujan.
“Begitu hujan turun, air langsung karuah. Dalam kondisi seperti itu, tidak bisa diproduksi karena tidak memenuhi standar,” tegasnya, Sabtu (28/3/2026).
Situasi ini bukan hal baru, namun dampaknya terus dirasakan masyarakat. Distribusi air tersendat, bahkan terhenti di sejumlah wilayah terdampak.
Sebagai langkah cepat, PDAM melakukan pembenahan intake agar proses pengambilan air tetap bisa berjalan meski dalam kondisi terbatas.
Di lapangan, petugas terlihat berjibaku melakukan perbaikan pada sejumlah titik penting intake guna menstabilkan aliran air.
Namun demikian, Febri menegaskan bahwa perbaikan ini hanya bersifat sementara dan belum menjadi solusi jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten Solok bersama Bupati saat ini tengah mendorong rehabilitasi dan rekonstruksi permanen sistem penyediaan air minum (SPAM).
Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengalokasikan anggaran APBN pascabencana dengan nilai yang cukup besar, hampir mencapai Rp80 miliar.
Program ini diharapkan mampu menjadi solusi permanen terhadap persoalan air keruh saat hujan yang selama ini menjadi kendala utama.
Febri Fauza juga mengajak seluruh elemen, mulai dari nagari, niniak mamak, BPN, tokoh masyarakat hingga DPRD untuk mendukung penuh pembangunan SPAM permanen tersebut.
“Ini harapan kita bersama. Dukungan semua pihak sangat menentukan agar SPAM permanen ini bisa terwujud dan memberi manfaat jangka panjang,” pungkasnya.(A5)

