Arosuka.FokusCyber — Wajah kawasan Taman Tugu Ayam Arosuka yang dulunya dikenal rapi dan asri kini menuai sorotan tajam.
Keberadaan lapak-lapak UMKM yang menjamur di sepanjang kawasan tersebut dinilai telah mengganggu fungsi utama ruang publik, terutama trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.Minggu, 22/3/2026.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejumlah tenda dan kios pedagang berdiri di jalur pedestrian. Kondisi ini membuat pengunjung kesulitan melintas dengan nyaman, bahkan sebagian terpaksa turun ke area rumput. Situasi tersebut memunculkan kesan semrawut dan jauh dari konsep awal taman sebagai ruang terbuka hijau yang tertata.
Sejumlah warga dan pengunjung menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Mereka menilai, aktivitas ekonomi memang penting, namun tidak seharusnya mengorbankan kenyamanan dan hak masyarakat luas.
“Saya kebetulan hanya singgah di Arosuka saat dalam perjalanan menuju Padang dari Payakumbuh.
Terus terang, saya sangat menyayangkan kondisi tata kota di sini. Hampir seluruh deretan kawasan dipenuhi kios dan lapak pedagang. Seharusnya bisa ditata lebih rapi dan seragam, sehingga tetap enak dipandang,” ujar salah seorang pengunjung.
Ia juga menilai kondisi yang ada terkesan amburadul dan tidak memperhatikan estetika kawasan. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Solok melalui instansi terkait harus segera turun tangan mengambil langkah nyata.
“Jangan hanya terkesan asal bapak senang. Penataan itu penting, bukan hanya untuk aktivitas ekonomi, tapi juga menjaga keindahan dan kenyamanan ruang publik,” tegasnya.
Kritik serupa juga disampaikan Anton, seorang perantau asal Solok yang kini berdomisili di Payakumbuh. Ia menyoroti posisi strategis Arosuka sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Solok.
“Arosuka ini kan pusat pemerintahan, hampir seluruh kantor dinas dan OPD ada di sini, bahkan rumah dinas bupati dan wakil bupati juga tidak jauh dari lokasi lapak-lapak UMKM ini. Apa tidak risih melihat kondisi seperti ini, tanpa tata kelola dan estetika? Saya juga orang Solok, tapi merantau ke Payakumbuh,” ucap Anton.
Di sisi lain, para pelaku UMKM mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan keramaian taman untuk mencari penghasilan. Minimnya lokasi khusus yang disediakan bagi pedagang kecil menjadi alasan utama mereka tetap bertahan di kawasan tersebut.
Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan terhadap keseriusan dan ketegasan pemerintah daerah dalam menata ruang publik. Kolaborasi lintas instansi yang diharapkan mampu menghadirkan solusi hingga kini dinilai belum berjalan efektif.
Jika dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin Taman Tugu Ayam Arosuka akan kehilangan identitasnya sebagai ruang publik yang nyaman dan representatif. Pemerintah dituntut tidak hanya hadir saat peresmian, tetapi juga konsisten dalam menjaga dan menata kawasan demi kepentingan bersama.( A5)


